Bukan Kemananya. Tapi Dengan Siapa Kesananya
Bagi saya yang paling penting bukan mahalnya tiket masuk yang menjadi masalah. Bukan terkenalnya spot wisata yang menjadi tujuan kesana. Bukan bagus dan romantisnya tempat jalan-jalan yang jadi pilihan utama. Bukan.
Pergi ke angkringan yang sederhana demi menikmati segelas jeruk hangat ditemani makanan kesukaanmu sambil saling bercerita aktivitas seharian. Sesekali harus mencubit pipimu agar tak kembali mengeluh atas masalah yang tak mampu kamu selesaikan sudah menjadi moment romantis bagi saya. Meski terkesan sangat sederhana.
Berjalan kaki memutari malioboro sambil bercanda menikmati tawamu dan angin malam sudah menjadi moment mahal dan berharga meski harus dibayar dengan berlelah kaki dan tenaga. Yah anggap saja sebagai olahraga membantu kamu menuruni berat badan.
Berada di warung kopi sambil saling menyemangati dan berlomba menyelesaikan bab demi bab sebagai syarat kelulusan mengejar sidang yang terasa jauh. Sesekali menyeruput kopi dan coklat hangat yang semakin mendingin. Lalu melirik kearah wajahmu dengan kening mengkerut karena buntu untuk merangkai kata demi kata demi kalimat sempurna. Seketika tersadar betapa manisnya wajahmu ketika dalam mode kesel dan bingung sendiri. Yah. Tiba-tiba kebersamaan kita menjadi tujuan utama kita bersama-sama menyelesaikan studi secepatnya.
Hingga aku sadar. Bahwa kemanapun saya pergi. Pada akhirnya saya akan tetap memilih dengan siapa saya kesana. Karena yang saya butuhkan bukan sebatas tempat indah, tapi juga "teman bercerita".
NB : Bukan kisah nyata. Hanya mencoba menuliskan apa yang sedang saya ingin tulis
Pergi ke angkringan yang sederhana demi menikmati segelas jeruk hangat ditemani makanan kesukaanmu sambil saling bercerita aktivitas seharian. Sesekali harus mencubit pipimu agar tak kembali mengeluh atas masalah yang tak mampu kamu selesaikan sudah menjadi moment romantis bagi saya. Meski terkesan sangat sederhana.
Berjalan kaki memutari malioboro sambil bercanda menikmati tawamu dan angin malam sudah menjadi moment mahal dan berharga meski harus dibayar dengan berlelah kaki dan tenaga. Yah anggap saja sebagai olahraga membantu kamu menuruni berat badan.
Berada di warung kopi sambil saling menyemangati dan berlomba menyelesaikan bab demi bab sebagai syarat kelulusan mengejar sidang yang terasa jauh. Sesekali menyeruput kopi dan coklat hangat yang semakin mendingin. Lalu melirik kearah wajahmu dengan kening mengkerut karena buntu untuk merangkai kata demi kata demi kalimat sempurna. Seketika tersadar betapa manisnya wajahmu ketika dalam mode kesel dan bingung sendiri. Yah. Tiba-tiba kebersamaan kita menjadi tujuan utama kita bersama-sama menyelesaikan studi secepatnya.
Hingga aku sadar. Bahwa kemanapun saya pergi. Pada akhirnya saya akan tetap memilih dengan siapa saya kesana. Karena yang saya butuhkan bukan sebatas tempat indah, tapi juga "teman bercerita".
NB : Bukan kisah nyata. Hanya mencoba menuliskan apa yang sedang saya ingin tulis


Komentar
Posting Komentar