Aku Kira Kamu Teman, Ternyata Bukan

Apa sih yang kamu rasain jika melihat teman kita sekarang sudah menggunakan hijab syar'i? Sudah menggunakan gamis yang menutupi seluruh badan? Sudah tidak mengumbar foto dimedia sosial?

Apa sih yang kamu pikirin jika melihat teman kita sekarang sudah tidak menggunakan kaos pendek? Lebih sering menggunakan celana kain dan baju koko? Lebih sering menasehati dan mengajak pada kebaikan?

Harusnya sih seneng. Harusnya sih bangga. Tapi ...

Kok banyak ya diantara kita yang sering nyeletuk meski dalam keadaan bercanda mengatakan :

"Haelah, sok alim banget sih"
"Perasaan kemarin gak gini, kesambet apaan lu?
"Halah paling hanya ikutan trend aja"
"Perbaiki dulu hati baru pakaianmu"

Sadar gak sih kita sering nyeletuk kayak gitu ketemen kita yang sedang mencoba berubah dan hijrah ke jalan yang lebih baik? Meski niat kita bercanda, kadang itu bisa jadi bahaya.

Ada yang bilang jika menyakiti hati orang dengan lisan itu semudah kita melepar batu ke dalam lautan. Tapi kita gak tau sedalam apa batu itu mampu tenggelam hingga dasar.

Tanpa kita sadari, proses hijrahnya seseorang gagal itu bukan karena ketidakistiqomahannya dia. Tapi karena lisan kita. Iya. Bisa jadi kita sudah menjadi penghalang antara dia dengan Sang Pencipta. Jadi beratkan kasusnya?

Apasalahnya jika kita mengucapkan :
"Alhamdulillah, semoga istiqomah ya"
"Kamu makin cantik jika tertutup gitu, pertahanin yah"
"Duh kamu udah berubah, bantuin aku juga dong biar bisa kayak kamu"

Simpel kan? Iya. Susah? Enggak. Kita aja yang lebih mementingkan gengsi.

Ada nasehat bijak dari seorang temen :
"Jika kamu seorang teman yang baik, maka jadilah rambu-rambu petunjuk jalanku. Jangan jadi portal jalan yang membuatku susah maju dan harus mutar balik kejalan yang lain (yang belum tentu baik)".

Pernah diposting dalam Instastory Instagram @dianmauliksaputra tanggal 27 April 2018

Pict by : Pixabay

Komentar

Postingan Populer