Aku Masih Anak Mama
Ada salah satu contoh yang membuktikan bahwa kita masih tergolong "anak mama" meski usia sudah menginjak 20an tahun.
Salah satu moment itu aku rasakan sendiri. Yah tepatnya seperti ini.
Aku : Ma lihat kunci motor yang dede pakai tadi sore gak?
Mama : Itukan tadi dede simpan diatas aquarium. Masa udah lupa baru aja setengah jam yang lalu.
Aku : Udah dede cari ma tapi kok gak ada
Mama : Awas ya kalo mama cari dan ternyata ada
Selang beberapa saat mama mencari,
Mama : Lah ini apaa? Kan udah dibilang diatas aquarium
Aku : Kan gak kelihatan maa. Lagian kuncinya yang sembunyi dibelakang vas bunga
Mama : Alah alesan. Itu kuping kalo gak nempel juga bakal lupa simpennya dimana. Lain kali nyari pake mata ya. Jangan dikit-dikit teriak maaa, dikit-dikit teriak maa.
Aku : Iya maa iyaa (Innallaha ma'ashabiriin dalam hati)
Seketika setelah kejadian itu aku merasa belum menjadi laki-laki yang mandiri. Masih bergantung sama ingatan mama dan bantuan mama meski dalam mencari kunci. Ntah kenapa teori semakin tua semakin lupa menjadi tidak berarti untuk seorang mama dan aku menjadi anomali dari teori itu sendiri.
Seketika setelah kejadian itu aku semakin merasa bahwa aku belum siap kehilangan sosok mama dan yang jelas aku ternyata belum siap untuk menikah. Untuk mengurus diri sendiri aja belum bisa bagaimana aku harus mengurus istri dan anak kelak.
Terimakasih maa. Ternyata sejauh apapun anakmu ini merantau dan berjuang di tanah orang. Saat pulang kerumah, aku tetap menjadi anakmu yang manja dan kekanakan meski di usia ku yang dewasa ini :"
Salam sayang dari anakmu yang pelupa,
Dian Maulik Saputra (Dedek)
Diposting pada akun Line @dianmauliksaputra tanggal
27 Maret 2018
Salah satu moment itu aku rasakan sendiri. Yah tepatnya seperti ini.
Aku : Ma lihat kunci motor yang dede pakai tadi sore gak?
Mama : Itukan tadi dede simpan diatas aquarium. Masa udah lupa baru aja setengah jam yang lalu.
Aku : Udah dede cari ma tapi kok gak ada
Mama : Awas ya kalo mama cari dan ternyata ada
Selang beberapa saat mama mencari,
Mama : Lah ini apaa? Kan udah dibilang diatas aquarium
Aku : Kan gak kelihatan maa. Lagian kuncinya yang sembunyi dibelakang vas bunga
Mama : Alah alesan. Itu kuping kalo gak nempel juga bakal lupa simpennya dimana. Lain kali nyari pake mata ya. Jangan dikit-dikit teriak maaa, dikit-dikit teriak maa.
Aku : Iya maa iyaa (Innallaha ma'ashabiriin dalam hati)
Seketika setelah kejadian itu aku merasa belum menjadi laki-laki yang mandiri. Masih bergantung sama ingatan mama dan bantuan mama meski dalam mencari kunci. Ntah kenapa teori semakin tua semakin lupa menjadi tidak berarti untuk seorang mama dan aku menjadi anomali dari teori itu sendiri.
Seketika setelah kejadian itu aku semakin merasa bahwa aku belum siap kehilangan sosok mama dan yang jelas aku ternyata belum siap untuk menikah. Untuk mengurus diri sendiri aja belum bisa bagaimana aku harus mengurus istri dan anak kelak.
Terimakasih maa. Ternyata sejauh apapun anakmu ini merantau dan berjuang di tanah orang. Saat pulang kerumah, aku tetap menjadi anakmu yang manja dan kekanakan meski di usia ku yang dewasa ini :"
Salam sayang dari anakmu yang pelupa,
Dian Maulik Saputra (Dedek)
Diposting pada akun Line @dianmauliksaputra tanggal
27 Maret 2018



Komentar
Posting Komentar