Antara Ayah dan Calon Suami
Saya ingin menjawab pertanyaan yang bagus dan penting buat kita.
"Lik, kenapa wanita (terutama yang sudah kehilangan ayahnya) akan sangat sulit dan menjadi sangat selektif dalam memilih laki-laki sebagai imamnya kelak?"
Ini konteksnya si wanita menjadi selektif dalam menentukan pasangan meski banyak yang mendekati ya. Bukan si wanita yang sulit mendapat pasangan karena gak ada yang mau. Beda jauh. Garis bawahi permasalahannya.
Jadi gini. Menurut saya, hanya ada 2 laki-laki yang sangat menyayangi perempuan dan begitu menghormati perempuan lebih dari dirinya sendiri. Yaitu Rasulullah SAW dan seorang Ayah.
Yaa. Mungkin bakal banyak yang setuju jika saya mengatakan bahwa hanya Ayah lah satu-satunya laki-laki yang gak akan pernah menyakiti anaknya sampai meneteskan air mata.
Wanita hakikatnya membutuhkan sosok imam yang seperti ayahnya. Meski tidak akan bisa sama persis. Tapi setidaknya ada banyak karakter serta sifat dan sikap yang mendekati ayahnya. Seperti membuat nyaman, melindungi, bisa jadi tempat buat cerita, pendengar yang baik, tidak kasar, lembut, dan lisannya menjaga perasaan.
Terutama bagi yang sudah kehilangan sosok Ayah. Ia akan sangat kehilangan sosok yang selama ini menjaga dan melindungi dia. Nah slot kosong itu lah yang dia harapkan mampu di isi oleh seorang laki-laki yang bisa menjadi atau mendekati karakter/sifat ayahnya. Karena itu yang dia butuhkan.
Kamu bisa aja punya pengetahuan agama dan pendidikan lebih tinggi dari ayahnya. Tapi kamu belum tentu bisa punya karakter dan sifat yang dibutuhin seorang wanita seperti ia membutuhkan sosok ayah dalam hidupnya.
Inget yak. Setiap wanita punya kriteria berbeda yang dia mau dari imam pilihannya. Tapi semua wanita memiliki kebutuhan yang sama terhadap seorang imamnya. Catet nih.
Karena dalam memilih calon imam, yang diperhitungkan wanita bukanlah "dia akan menjadi pasangan saya". Lebih dari itu. Karena setelah menjadi imam, semua tanggung jawab yang dulu ada pada ayahnya, menjadi tanggung jawab laki-laki tersebut. Maka tanggung jawabnya ada 2. Menjadi pasangannya, dan menjadi sosok seperti ayahnya.
Nah masih belum terlambat untuk berubah. Kuy mulai sekarang belajar menjadi laki-laki yang dibutuhkan. Bukan hanya yang dimau oleh seorang wanita. Mari belajar dari Akhlak Rasulullah dan belajar dari ayahnya dia (kalo dia nya udah ada).
Pernah di posting di Instastory Instagram @dianmauliksaputra tanggal 2 Juni 2018
Pict by : Pixabay
"Lik, kenapa wanita (terutama yang sudah kehilangan ayahnya) akan sangat sulit dan menjadi sangat selektif dalam memilih laki-laki sebagai imamnya kelak?"
Ini konteksnya si wanita menjadi selektif dalam menentukan pasangan meski banyak yang mendekati ya. Bukan si wanita yang sulit mendapat pasangan karena gak ada yang mau. Beda jauh. Garis bawahi permasalahannya.
Jadi gini. Menurut saya, hanya ada 2 laki-laki yang sangat menyayangi perempuan dan begitu menghormati perempuan lebih dari dirinya sendiri. Yaitu Rasulullah SAW dan seorang Ayah.
Yaa. Mungkin bakal banyak yang setuju jika saya mengatakan bahwa hanya Ayah lah satu-satunya laki-laki yang gak akan pernah menyakiti anaknya sampai meneteskan air mata.
Wanita hakikatnya membutuhkan sosok imam yang seperti ayahnya. Meski tidak akan bisa sama persis. Tapi setidaknya ada banyak karakter serta sifat dan sikap yang mendekati ayahnya. Seperti membuat nyaman, melindungi, bisa jadi tempat buat cerita, pendengar yang baik, tidak kasar, lembut, dan lisannya menjaga perasaan.
Terutama bagi yang sudah kehilangan sosok Ayah. Ia akan sangat kehilangan sosok yang selama ini menjaga dan melindungi dia. Nah slot kosong itu lah yang dia harapkan mampu di isi oleh seorang laki-laki yang bisa menjadi atau mendekati karakter/sifat ayahnya. Karena itu yang dia butuhkan.
Kamu bisa aja punya pengetahuan agama dan pendidikan lebih tinggi dari ayahnya. Tapi kamu belum tentu bisa punya karakter dan sifat yang dibutuhin seorang wanita seperti ia membutuhkan sosok ayah dalam hidupnya.
Inget yak. Setiap wanita punya kriteria berbeda yang dia mau dari imam pilihannya. Tapi semua wanita memiliki kebutuhan yang sama terhadap seorang imamnya. Catet nih.
Karena dalam memilih calon imam, yang diperhitungkan wanita bukanlah "dia akan menjadi pasangan saya". Lebih dari itu. Karena setelah menjadi imam, semua tanggung jawab yang dulu ada pada ayahnya, menjadi tanggung jawab laki-laki tersebut. Maka tanggung jawabnya ada 2. Menjadi pasangannya, dan menjadi sosok seperti ayahnya.
Nah masih belum terlambat untuk berubah. Kuy mulai sekarang belajar menjadi laki-laki yang dibutuhkan. Bukan hanya yang dimau oleh seorang wanita. Mari belajar dari Akhlak Rasulullah dan belajar dari ayahnya dia (kalo dia nya udah ada).
Pernah di posting di Instastory Instagram @dianmauliksaputra tanggal 2 Juni 2018
Pict by : Pixabay



Komentar
Posting Komentar