KATANYA Kehutanan Melegenda, TERNYATA ... ah sudahlah
Menarik dan saya sangat mengapresiasi ketika saya melihat tulisan yang berisi ajakan untuk mendukung kehutanan menjadi legenda kembali. Beberapa kalimat yang bernada persuasif sekaligus menusuk bagi orang-orang yang selama ini memilih apatis terhadap dunia supporteran.
Beberapa kali saya hadir dalam supporteran, yang hadir selalu itu-itu saja. Tidak banyak yang hadir (kecuali saat melawan teknik, gatau kenapa). Apakah supporteran tidak menarik dan tidak asik lagi? Padahal disana tidak ada mikir laporan, tidak ada paksaan dan tidak dipungut bayaran. Hanya bersenang-senang sejenak dibalik kesibukan akademik yang menumpuk.
Sebenernya kondisinya sama seperti beberapa kasus dibawah ini :
1. Kita anak kehutanan. Harus pinter dalam ilmu kehutanan dan segala macam kebijakan serta permasalahan kehutanan (katanya). Tapi kok ketika ada diskusi selalu sepi? Yang datang itu-itu saja orangnya. Padahal ngakunya kehutanan. Diajak peduli kehutanan gak mau. Katanya kehutanan UGM melegenda, kok gak peduli sama dunia diskusi? Cuman mau seneng-seneng doang? Terus kapan kehutanan UGM melegenda lagi dibidang diskusi supaya punya tulisan yang mengkritik kebijakan serta membantu menyelesaikan permasalahan hutan Indonesia? Ah, sudahlah.
2. Untuk Rimbawan Muslim (karena saya muslim). Kehutanan itu melegenda, islamnya bagus dan akhlaknya mulia (katanya). Banyak yang KTP-nya islam tapi kok ketika ada jadwal kajian di mesjid kehutanan bahkan jadwal SHALAT WAJIB mesjidnya sepi. Bahkan lebih ramai mahasiswa islam yang duduk-duduk santai di beberapa sudut kampus menghiraukan panggilanNya. Sebegitu tidak pentingkah panggilanNya sampai Shalat dan Kajian menjadi tidak menarik dibandingkan obrolan kalian? Ah, sudahlah.
3. Acara-acara pemilwa. Kehutanan itu harus mengerti politik dan harus bisa berdemokrasi supaya saat lulus nanti bisa memperbaiki kebobrokan pemerintah selama ini (katanya). Tapi ketika ada agenda pesta demokrasi di kehutanan, yang hadir untuk mengenal para calon di pemilwa hanya panitia dan sebagian orang saja yang hadir. Yang lainnya gak tau pada kemana, beberapa ada yang di akademik lebih memilih mengerjakan laporannya ketimbang mengenali para calon pemimpinnya. Terus bagaimana kita mau peduli dengan politik dan demokrasi kehutanan esok? Ah, sudahlah.
4. Acara PKM. Katanya kehutanan itu menguasai sebagian besar tanah di Indonesia karena luas hutannya, jadi harusnya banyak ide untuk memanfaatkan hutan melalui ajang PKM supaya bisa melegenda kembali (katanya). Tapi kenapa tiap tahun yang ikut PKM orangnya itu-itu saja. Kenapa hanya segelintir orang saja yang mengikuti PKM. Apakah PKM tidak menarik lagi? Bukankah sebagai mahasiswa kita akan menulis skripsi dan dengan mahir menulis PKM, kita akan terbantu dalam menyusun skripsi esok hari. Terus kenapa cuman itu-itu saja orangnya? Kemana yang lain? Ah, sudahlah.
Ah, sudahlah. Ternyata memang kita berjalan sendiri-sendiri. Tidak bisa memaksakan orang-orang yang tidak suka supporteran untuk ikut supporteran. Tidak bisa memaksa orang yang tidak suka kajian datang ke kajian di mesjid. Tidak bisa memaksa orang yang tidak suka diskusi untuk datang berdiskusi tentang kehutanan. Tidak bisa memaksa orang yang tidak suka datang di acara pemilwa untuk hadir meramaikan pemilwa. Dan tidak bisa memaksa orang yang tidak suka PKM untuk ikut menulis PKM.
Semua sudah memiliki pilihan.
Ternyata Kehutanan Tetap Melegenda kok. Semua melegenda dari caranya dan pilihannya masing-masing. Karena Melegenda tidak bisa hanya dari satu aspek saja. Semua saling melengkapi.
Terimakasih atas tulisannya. Saya jadi merasa bahwa KITA TETAP MELEGENDA meski dijalan yang berbeda demi satu kehutanan.
NB :
Jangan lupa supporteran, jangan lupa shalat dan ikut kajian, jangan lupa memilih saat Pilkada, jangan lupa ikut diskusi kehutanan, dan jangan lupa ikut PKM.
Salam,
Saya yang belum bisa melegendakan kehutanan
Tulisan tanggal 22 November 2017
Diposting pada akun Line @dianmauliksaputra
Beberapa kali saya hadir dalam supporteran, yang hadir selalu itu-itu saja. Tidak banyak yang hadir (kecuali saat melawan teknik, gatau kenapa). Apakah supporteran tidak menarik dan tidak asik lagi? Padahal disana tidak ada mikir laporan, tidak ada paksaan dan tidak dipungut bayaran. Hanya bersenang-senang sejenak dibalik kesibukan akademik yang menumpuk.
Sebenernya kondisinya sama seperti beberapa kasus dibawah ini :
1. Kita anak kehutanan. Harus pinter dalam ilmu kehutanan dan segala macam kebijakan serta permasalahan kehutanan (katanya). Tapi kok ketika ada diskusi selalu sepi? Yang datang itu-itu saja orangnya. Padahal ngakunya kehutanan. Diajak peduli kehutanan gak mau. Katanya kehutanan UGM melegenda, kok gak peduli sama dunia diskusi? Cuman mau seneng-seneng doang? Terus kapan kehutanan UGM melegenda lagi dibidang diskusi supaya punya tulisan yang mengkritik kebijakan serta membantu menyelesaikan permasalahan hutan Indonesia? Ah, sudahlah.
2. Untuk Rimbawan Muslim (karena saya muslim). Kehutanan itu melegenda, islamnya bagus dan akhlaknya mulia (katanya). Banyak yang KTP-nya islam tapi kok ketika ada jadwal kajian di mesjid kehutanan bahkan jadwal SHALAT WAJIB mesjidnya sepi. Bahkan lebih ramai mahasiswa islam yang duduk-duduk santai di beberapa sudut kampus menghiraukan panggilanNya. Sebegitu tidak pentingkah panggilanNya sampai Shalat dan Kajian menjadi tidak menarik dibandingkan obrolan kalian? Ah, sudahlah.
3. Acara-acara pemilwa. Kehutanan itu harus mengerti politik dan harus bisa berdemokrasi supaya saat lulus nanti bisa memperbaiki kebobrokan pemerintah selama ini (katanya). Tapi ketika ada agenda pesta demokrasi di kehutanan, yang hadir untuk mengenal para calon di pemilwa hanya panitia dan sebagian orang saja yang hadir. Yang lainnya gak tau pada kemana, beberapa ada yang di akademik lebih memilih mengerjakan laporannya ketimbang mengenali para calon pemimpinnya. Terus bagaimana kita mau peduli dengan politik dan demokrasi kehutanan esok? Ah, sudahlah.
4. Acara PKM. Katanya kehutanan itu menguasai sebagian besar tanah di Indonesia karena luas hutannya, jadi harusnya banyak ide untuk memanfaatkan hutan melalui ajang PKM supaya bisa melegenda kembali (katanya). Tapi kenapa tiap tahun yang ikut PKM orangnya itu-itu saja. Kenapa hanya segelintir orang saja yang mengikuti PKM. Apakah PKM tidak menarik lagi? Bukankah sebagai mahasiswa kita akan menulis skripsi dan dengan mahir menulis PKM, kita akan terbantu dalam menyusun skripsi esok hari. Terus kenapa cuman itu-itu saja orangnya? Kemana yang lain? Ah, sudahlah.
Ah, sudahlah. Ternyata memang kita berjalan sendiri-sendiri. Tidak bisa memaksakan orang-orang yang tidak suka supporteran untuk ikut supporteran. Tidak bisa memaksa orang yang tidak suka kajian datang ke kajian di mesjid. Tidak bisa memaksa orang yang tidak suka diskusi untuk datang berdiskusi tentang kehutanan. Tidak bisa memaksa orang yang tidak suka datang di acara pemilwa untuk hadir meramaikan pemilwa. Dan tidak bisa memaksa orang yang tidak suka PKM untuk ikut menulis PKM.
Semua sudah memiliki pilihan.
Ternyata Kehutanan Tetap Melegenda kok. Semua melegenda dari caranya dan pilihannya masing-masing. Karena Melegenda tidak bisa hanya dari satu aspek saja. Semua saling melengkapi.
Terimakasih atas tulisannya. Saya jadi merasa bahwa KITA TETAP MELEGENDA meski dijalan yang berbeda demi satu kehutanan.
NB :
Jangan lupa supporteran, jangan lupa shalat dan ikut kajian, jangan lupa memilih saat Pilkada, jangan lupa ikut diskusi kehutanan, dan jangan lupa ikut PKM.
Salam,
Saya yang belum bisa melegendakan kehutanan
Tulisan tanggal 22 November 2017
Diposting pada akun Line @dianmauliksaputra



Komentar
Posting Komentar