KENDALIKAN SIFAT BAPER-MU
Baper sering kali dikaitkan dengan masa pencarian jati diri yaitu masa yang harus banyak dibimbing agar terarah dengan baik. Kalau diilihat dari maknanya, baper ternyata dapat dirasakan oleh banyak orang dari segala umur. Biasanya, kita sering mengalami dan merasakan kata tersebut dalam hal yang negatif. Baper ketika diberi saran dan dikritik hingga akhirnya tersinggung. Baper ketika diajak bercanda hingga akhirnya muncul kesalahpahaman. Baper ketika dideketin lawan jenis yang menggunakan kata-kata manis namun akhirnya berakhir dengan tangis. Dan kasus-kasus baper lainnya yang malah menimbulkan efek negatif yang membuat jarak antar individu semakin melebar.
Tetapi hakikatnya baper merupakan kepekaan hati seseorang terhadap sesuatu yang bisa diubah menjadi hal positif. Tidak selalu dinilai jelek dan buruk. Jadi jangan menjauhi orang-orang yang mudah baper. Kita hanya perlu setting cara berpikir kita dan mengarahkan baper kepada jalan yang benar. Tapi saya beranggapan bahwa baper yang terbaik ialah bukan hanya perkara dunia saja. Tapi perkara yang lebih abadi, yaitu akhirat.
Percayalah baper itu sebenarnya baik dan dapat menyehatkan hati. Baper atau mudah tersinggung dalam arti positif saat misalnya ketika membaca nasehat dari buku atau kutipan kata nasehat dari sebuah tulisan di sosmed. Baper ketika mendengarkan lantunan ayat suci Al-Quran. Baper ketika sedang bermuhasabah hati. Baper ketika melihat teman memiliki hafalan Quran lebih banyak dari kita, lebih rajin shalat tepat waktu dari kita dan lebih banyak beramal dari kita.
Hingga hatinya gampang membandingan dirinya dengan apa yang dibaca "Apa hidup saya sudah bermanfaat, minimal untuk sendiri, apalagi untuk orang lain?" Karena kalau ajal datang, pasti saya akan mati.
Renungan itulah sebagai buah dari baper yang terbaik. Orang yang baper karena Lillah maka kepekaan hatinya akan semakin besar. Mudah sensitif dari sesuatu yang menarik perasaannya terhadap kebaikan. Inilah hakikat baper yang sebenarnya. Baper yang mengarahkan hati kepada ketaatan, baper yang mengarahkan hati kepada keimanan dan baper yang mengarahkan hidup lebih dekat kepada Allah.
Bahkan Rasulullah SAW juga pernah baper. Dari Ibnu "Masud radhiyallahu anhu, ia berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata kepadaku, Bacalah Al Quran untukku. Maka aku menjawab, Wahai Rasulullah, bagaimana aku membacakan Al Quran untukmu, bukankah Al Quran diturunkan kepadamu? Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Aku suka mendengarnya dari selainku. Lalu aku membacakan untuknya surat An Nisaa hingga sampai pada ayat (yang artinya), "Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)" (QS. An Nisa: 41). Beliau berkata, Cukup. Maka aku menoleh kepada beliau, ternyata kedua mata beliau dalam keadaan bercucur air mata." (HR. Bukhari no. 4582 dan Muslim no. 800)
NB :
Bisa jadi ketika hati tidak mudah baper terhadap urusan akhirat, itu salah satu penyebab sulitnya menerima nasihat.
-Yogyakarta, kota yang istimewa karena "perasaan" manusia didalamnya
Dian Maulik Saputra
Pernah di posting di akun Line @dianmauliksaputra tanggal 18 Desember 2018
Tetapi hakikatnya baper merupakan kepekaan hati seseorang terhadap sesuatu yang bisa diubah menjadi hal positif. Tidak selalu dinilai jelek dan buruk. Jadi jangan menjauhi orang-orang yang mudah baper. Kita hanya perlu setting cara berpikir kita dan mengarahkan baper kepada jalan yang benar. Tapi saya beranggapan bahwa baper yang terbaik ialah bukan hanya perkara dunia saja. Tapi perkara yang lebih abadi, yaitu akhirat.
Percayalah baper itu sebenarnya baik dan dapat menyehatkan hati. Baper atau mudah tersinggung dalam arti positif saat misalnya ketika membaca nasehat dari buku atau kutipan kata nasehat dari sebuah tulisan di sosmed. Baper ketika mendengarkan lantunan ayat suci Al-Quran. Baper ketika sedang bermuhasabah hati. Baper ketika melihat teman memiliki hafalan Quran lebih banyak dari kita, lebih rajin shalat tepat waktu dari kita dan lebih banyak beramal dari kita.
Hingga hatinya gampang membandingan dirinya dengan apa yang dibaca "Apa hidup saya sudah bermanfaat, minimal untuk sendiri, apalagi untuk orang lain?" Karena kalau ajal datang, pasti saya akan mati.
Renungan itulah sebagai buah dari baper yang terbaik. Orang yang baper karena Lillah maka kepekaan hatinya akan semakin besar. Mudah sensitif dari sesuatu yang menarik perasaannya terhadap kebaikan. Inilah hakikat baper yang sebenarnya. Baper yang mengarahkan hati kepada ketaatan, baper yang mengarahkan hati kepada keimanan dan baper yang mengarahkan hidup lebih dekat kepada Allah.
Bahkan Rasulullah SAW juga pernah baper. Dari Ibnu "Masud radhiyallahu anhu, ia berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata kepadaku, Bacalah Al Quran untukku. Maka aku menjawab, Wahai Rasulullah, bagaimana aku membacakan Al Quran untukmu, bukankah Al Quran diturunkan kepadamu? Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Aku suka mendengarnya dari selainku. Lalu aku membacakan untuknya surat An Nisaa hingga sampai pada ayat (yang artinya), "Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)" (QS. An Nisa: 41). Beliau berkata, Cukup. Maka aku menoleh kepada beliau, ternyata kedua mata beliau dalam keadaan bercucur air mata." (HR. Bukhari no. 4582 dan Muslim no. 800)
NB :
Bisa jadi ketika hati tidak mudah baper terhadap urusan akhirat, itu salah satu penyebab sulitnya menerima nasihat.
-Yogyakarta, kota yang istimewa karena "perasaan" manusia didalamnya
Dian Maulik Saputra
Pernah di posting di akun Line @dianmauliksaputra tanggal 18 Desember 2018



Komentar
Posting Komentar