Ketika Usaha Tak Sejalan Dengan Hasil

Si A berusaha rajin belajar siang dan malam. Hafalin teks book. Mencatat dan menyimak pelajaran dari dosen dengan serius. Sampai mengurangi waktu bermainnya bersama teman demi IPK yang tinggi dan memuaskan.

Tapi

Ternyata nilainya tetap kalah dengan si B dan bahkan sering kalah jauh dari si B yang tidak berjuang sekeras itu.

Si A berusaha aktif organisasi, belajar tepat waktu, menjadi aktivis kampus dengan mengikuti segala kajian-kajiannya bahkan aktif dalam kepanitiaan kampus hingga tak ada waktu bermain.

Tapi

Ternyata softskill nya masih kalah sama si B yang tidak banyak aktif di kampus tetapi lebih kritis, dikenal banyak orang, omongannya berbobot dan suaranya bisa mempengaruhi orang lain.

Si A selalu berusaha menjadi orang yang ramah, mencoba menjadi pendengar yang baik, berusaha join dengan obrolan orang lain dan berusaha menyatu dengan lingkungan yang berbeda.

Tapi

Usahanya masih kalah sama si B yang dapat masuk dan diterima orang-orang tanpa harus datang bergabung. Ya lebih tepatnya si B itu di butuhkan dan menjadi pusat perhatian ketika ia berbicara dan dalam ruang diskusi.

Sengaja atau tidak kita pernah berada di posisi si A.

Ketika kita berada di A. Kita sering menganggap bahwa itu tidak adil. Dan apa yang kita lakukan sia-sia.

Yah. Mungkin Allah mau kita belajar dari Julaibib. Lelaki hitam, kecil, mantan budak, tidak terkenal, tidak ada yang mau menikah dengannya tapi kecintaannya terhadap Allah serta Rasul melebihi kecintaan para sahabat yang lain.

Hanya satu tujuan hidupnya. Di kenal oleh Allah dan penduduk langit. Ia mungkin kita terlalu fokus pada reputasi dunia sampai abai terhadap reputasi kita dimata Allah.

Allah selalu ngasih kita kode. Untuk kita berbicara denganNya secara khusyuk. Sadar? Ini salah satu caranya Allah.

When you cannot sleep at night, have you ever thought maybe it's God saying, "We need to talk and you NOW have time.”

Kuy belajar peka dari kode-kode nya Allah. Kode bahwa Allah rindu pada hambanya untuk berjuang menjadi terkenal di mataNya. Bukan melulu tentang perkara dunia.

Bisa jadi niat kita selama ini salah. Hanya ingin terkenal, mendapat pengakuan, dan di dengar banyak orang demi sebatas reputasi di dunia saja. Hingga kita lupa bahwa apa yang kita lakukan tidak bernilai ibadah dimataNya.

“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya,” (QS. Al Kahf: 104).

Maka teruslah berbuat baik tanpa mengharapkan balasan di dunia. Biarkan Allah yang menilai semua amalmu. Teguhkan hati atas perbuatanmu hanya karena Allah. Perbaiki hubunganmu dan reputasimu dengan Allah, maka Allah akan perbaiki hubungan serta reputasimu di dunia.

-Pernah diposting di Instastory Instagram @dianmauliksaputra tanggal 4 Juni 2018

Pict by : Pixabay

Komentar

Postingan Populer