Kamu Ternyata Lebih Baik Dari Aku

Ketika kita asik menilai orang lain, menjudge bahwa ia jarang sekali shalat dan sering meninggalkan shalat disaat sedang kumpul bareng temen-temen. Hingga akhirnya kita punya penilaian bahwa ia tidak rajin beribadah dibanding diri kita dan merasa kita lebih baik.
-----
Ternyata di belakang kita dia selalu shalat tepat waktu. Dan ketika sedang kumpul, ia memilih untuk melakukan shalat tanpa menunjukkan diri supaya terhindar dan takut akan bahaya dari sifat riya. Sedangkan diri kita sendiri, asik mengobrol sepanjang waktu dengan hal yang tak bermanfaat sama sekali.

Ketika kita sibuk membicarakan aib orang lain, menggosip setiap waktu, selalu mencari bahan untuk bisa dijadikan perbincangan dengan dalih bahwa obrolan itu merupakan kisah nyata sehingga menganggap itu bukan bagian dari gibah.
-----
Disisi lain, orang yang kita bicarakan selalu mendoakan kebaikan untuk kita karena dia menganggap kita adalah saudaranya sendiri. Selalu membantu kita ketika kita lagi kesusahan di saat temen-temen sepergosipan menghindar untuk membantu dengan sejuta alasan namun ia tetap tulus tanpa mengharap imbalan.

Ketika kita sibuk menilai orang lain anti sosial dan tidak mau bergabung dengan kita ketika diajak ngobrol a.k.a nongkrong. Lalu menjudge dia sebagai orang sombong dan orang yang kuper.
-----
Padahal dibalik menghindarnya ia, ia sedang mencari pendapatan tambahan untuk sekedar mengisi perut dan kebutuhan pendidikan sendiri di tanah rantau. Ia sedang berjuang menjadi orang yang lebih mandiri dan jauh lebih aktif dalam kegiatan kemanusiaan ketimbang kita yang mengaku makhluk sosial tapi tak pernah lepas dari gadget saat sedang kumpul dengan dalih mengabadikan moment.

Tak malu kah kita? Terhadap diri sendiri dan terhadap Allah? Menganggap diri ini paling beriman, paling bisa bersosial, paling suka menolong saudara sendiri tapi di mata Allah kita bukan siapa-siapa.

Rugikah kita? Jika hidup ini setiap hari hanya sibuk bergosip, suka sekali mengurus aib orang lain yang bungkus seolah peduli nan tulus. Seolah suci sendiri, dan orang lain penuh dosa.

Perhatikan sabda Rasulullah SAW berikut ini: ”Aku peringatkan kepada kalian tentang prasangka, karena sesungguhnya prasangka adalah perkataan yang paling bohong, dan janganlah kalian berusaha untuk mendapatkan informasi tentang kejelekan dan mencari-cari kesalahan orang lain, jangan pula saling dengki, saling benci, saling memusuhi, jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara” (H.R Bukhari, no. 6064 dan Muslim, no. 2563)

Salam,
Mahasiswa yang masih sering khilaf dalam menjaga lisan

Diposting pada akun Line @dianmauliksaputra tanggal 22 Januari 2018

Komentar

Postingan Populer