Mari Belajar dari Julaibib Si Manusia Langit

Hari ini mari kita belajar dari kisahnya salah satu sahabat Rasulullah.

Julaibib Radhiyallahu'anhu

Banyak orang diantara kita yang ambisius menjadi terkenal di dunia. Ada yang ingin menjadi terkenal dari media sosial, terkenal dari jabatan, hingga terkenal dari wajah yang dimiliki.

Hingga kita lupa bahwa menjadi terkenal di penduduk langit (para malaikat) adalah hal yang tidak kalah pentingnya.

Julaibib. Sahabat Rasulullah yang berasal dari kaum Anshar. Sahabat ini bukan termasuk orang terpandang di kalangan kaum Anshar. Perawakannya juga kurang bagus. Sahabat ini termasuk dalam kategori orang miskin, tidak memiliki harta.

Saking tidak terkenalnya beliau, tidak ada satupun yang mau menerimanya sebagai menantunya hingga ia selalu ditolak apabila ingin melamar seorang wanita.

Namun akhirnya ada seorang wanita yang menerima lamaran Julaibib yang diwakilkan oleh Rasulullah SAW. Wanita tersebut tunduk dan patuh terhadap apa yang diperintahkan Rasulullah kepadanya untuk menikah dengan Julaibib atas dasar keimanan terhadap Rasulullah.

Namun disaat yang bersamaan, terdapat panggilan Jihad dijalan Allah kepada kaum muslimin. Dan ternyata Julaibib lebih memilih berjihad ketimbang bersama sang istri yang baru saja ia nikahi.

Akhirnya, saat berperang ia pun gugur di jalan Allah. Rasulullah mencari jasad beliau dan menanyakan kepada para sahabatnya namun para sahabat tidak mengetahui.

Saat jasadnya ditemukan, Rasulullah meletakkan jasadnya dengan lemah lembut penuh kasih sayang di lengan dan pundak kiri Rasulullah sambil berkata "Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku. Dan aku adalah bagian dari dirinya.”

Yah inilah kisah Julaibib. Tidak terkenal di antara penduduk bumi bahkan dikalangan sahabat Rasulullah. Tapi Julaibib terkenal diantara penduduk langit, rasa cinta pada Allah dan Rasulullah melebihi segala.

Mari kita belajar dari Julaibib, yang taatnya diam diam, yang doa dari Rasulullah membuat cemburu para penduduk bumi. dari Julaibib yang ‘kami dengar, kami taat’, yang selalu merendahkan diri dihadap kekasihNya.

Mari kita belajar dari Julaibib, yang tidak mempertanyakan takdir, “Kenapa aku begini dan begitu, kenapa fisikku begini dan begitu”, dari situ, kita harus ridha atas segala ketetapanNya."

Dan mari kita belajar dari istri Julaibib, yang rasa taatnya kepada Allah dan RasulNya, mampu membuat Rasulullah mendoakan berjuta kebaikan untuknya, yang ridha terhadap aturan yang Allah berikan, yang patuh terhadap yang Rasulullah sabdakan. dan saya jadi teringat bahwa “ketaatan selalu diiringi nafsu yang tidak suka padanya, begitu juga sebaliknya perihal kemaksiatan”.

Sumber :
1. Shahih Muslim.
2. Usud al-Ghabah fi Ma’rifati ash-Shahabah.
3. Tafsir Ibnu Katsir.

Pernah di posting pada tanggal 28 Mei 2018 di Instastory Instagram @dianmauliksaputra

Komentar

Postingan Populer