Rindu Di Antara Kita Ternyata Palsu
"eh aku kangen kalian, yuk kita kumpul""udah lama nih kita gak ketemu, jalan yuk"
"kita loh LDRan, mumpung lagi liburan yuk qtime"
"mah pah makan diluar yuk, mumpung kakak lagi liburan semester nih"
"eh nonton yuk terus ke toko buku bareng, udah lama nih kita gak jalan-jalan"
Pesan-pesan seperti itu biasanya sering kita ungkapkan dan kita sampaikan kepada orang-orang yang kita sayang terutama bagi mereka yang selama ini terkendala oleh jarak dan sulit mendapatkan kesempatan untuk bertemu.
Ekspektasinya,
kita selalu membayangkan bahwa pertemuan akan menjadi moment yang membahagiakan dan akan menjadi kisah yang menyenangkan. Di sanalah kita akan saling bertanya kabar, di sanalah kita akan saling bertatapan, di sanalah kita akan melebur menjadi satu membunuh rindu dengan canda dan tawa yang tak kenal waktu.
Tapi,
Realita yang terjadi, seringkali diantara kita mengabaikan esensi dari pertemuan-pertemuan langka tersebut. Kita sering lupa bahwa tujuan kita menonton film bareng ya untuk menonton, mencari hiburan bersama, bareng-bareng mencuci mata karena mengidolakan pemain film yang sama.
---
Kita lupa bahwa kita sedang bertemu teman lama yang selama ini kita rindukan untuk berbicara dan tertawa bersama mereka. Mengingat dan mengenang moment yang dulu pernah dilalui bersama.
---
Kita lupa bahwa kita sedang makan dengan orang tua yang selama ini merindukan waktu bersama setelah berbulan-bulan hanya bertemu via suara. Rindu untuk mendengarkan kisah kita selama hidup ditanah rantau.
---
Kita lupa bahwa kita sedang qtime bersama pasangan yang selama ini terpisah oleh jarak yang telah menguji rasa kepercayaan maupun kesetiaan. Selalu bersabar dan berdoa agar segera bertemu.
Sejatinya apa yang membuat kita lupa akan hal itu semua? Apa yang membuat kata rindu itu menjadi palsu?
Ternyata, ego kita-lah penyebabnya. Kita terlalu asyik dan sibuk sendiri dengan dunia maya. Kita sibuk dan terlalu antusias memperhatikan postingan yang baru kita unggah/upload tentang moment bersama teman-teman, bersama keluarga, bersama pasangan, dengan cara show off kepada dunia melalui postingan yang menerangkan bahwa kita sedang menghabiskan waktu yang berkualitas bersama mereka.
Yah. Berkualitas (katanya).
Obrolan dan pembahasan yang seharusnya hangat dan dipenuhi canda tawa malah menjadi membosankan, garing seperti keripik kentang atau menjadi sepi dan dingin karena kita lebih antusias dan sibuk menunggu komentar orang-orang di postingan kita lalu harap-harap cemas menunggu notif dari jumlah likers atau seen by dari para followers.
Dan seringkali pertemuan itu diisi dengan ketidakmoodan dari diri kita setelah tau bahwa postingan yang baru di unggah tentang kebersamaan bersama mereka tidak ada yang like maupun memperhatikan. Membuat diri lupa bahwa sejatinya kebersamaan itu untuk dirasakan bukan dipamerkan.
NB :
Jangan sampai hangatnya kebersamaan yang selama ini dirindukan menjadi tidak spesial hanya karena sibuk memperhatikan postingan. Yuk sejenak matikan hp saat sedang bertemu, biarkan rindu itu menjadi milik kita bukan hanya aku atau kamu saja.
Salam,
Nusa Tenggara Timur, 12 Januari 2018 (publikasi akun Line @dianmauliksaputra



Komentar
Posting Komentar