Terimakasih Instagram. Aku Tidak Ingin Menyalahkanmu Atas Keburukanku.

Instagram merupakan sebuah media sosial yang muncul beberapa tahun lalu ketika media sosial lainnya tengah populer seperti twitter dan Facebook. Tapi tulisan ini bukan membahas perbedaan diantaranya, tulisan ini lebih kepada pengalaman bagaimana ternyata Instagram tidak dapat disalahkan atas kuota yang hilang, waktu yang terbuang, hidup menjadi riya, tukang pamer, selalu iri terhadap yang dipunya orang lain, ataupun disalahkan atas kehidupan kita yang menjadi tidak real.

Saya dulu sempat memiliki instagram dan banyak dokumentasi perjalanan hidup saya abadikan di istagram. Awalnya memang hanya sebatas untuk kenang-kenangan bahwa saya pernah mengunjungi suatu daerah dan pernah berwisata kemana aja bersama orang-orang tersayang. Tapi lambat laun, perasaan itu berganti kepada inginnya mendapatkan eksistensi dan pengakuan dari orang lain (manusiawi kok, karena sejatinya manusia pengen dapat pengakuan). Hingga akhirnya muncul perasaan ingin pamer dan waktu saya terbuang untuk membuka instagram ntah itu cek likers, coment, atau membuka akun yang lainnya di laman pencarian. Kadang sampai lupa waktu dan lupa kuota saking asiknya membuka akun tiap akun.

Kemudian selang beberapa bulan, saya berfikir dan mulai merasakan dampak buruk untuk keseharian saya. Kok makin hari, hidup saya hanya terpaku pada instagram, dikit-dikit update foto kemudian nungguin likers dan coment. Kok kuota saya gak terasa menjadi boros ya. Kok saya jadi suka judge foto orang lain ya. Kok saya jadi berniat pamer dan riya ya. Dan masih banyak lagi perasaan negatif yang timbul saat itu. Merasa hidup saya hanya seperti daun kelor. Iya berputar dalam satu poros sempit mengelilingi instagram.

Hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk menghapus Instagram. Selama 3 bulan saya hidup tanpa instagram. Dan wowww. Saya merasa kembali hidup, gak tau seperti merasa lebih sehat dan lebih real aja apa yang saya jalanin. Kuota terasa lebih hemat, kalopun habis ya paling main AoV atau FreeFire. Selebihnya saya habiskan kuota untuk chat baik WA, Facebook maupun Line. 3 bulan tanpa istagram saya mulai dijauhkan dari perasaan curiga, negatif thinking, iri, minder, dan pamer terhadap postingan orang lain. Pada akhirnya saya pun nyaman dan gak mau lagi install instagram meski banyak foto yang mau saya abadikan bersama orang-orang tersayang.

Lihat kan perbedaan tulisan saya diatas? Perubahan yang ada pada diri saya saat pakai instagram dan setelah tanpa instagram?

Yah, sebenernya yang salah bukan Instagramnya. Bukan instagram yang mengubah hidup saya menjadi ketergantungan. Yang salah ya saya. Saya kalah sama hawa nafsu saya. Saya kalah sama egoisme saya. Saya kalah melawan godaan setan pada diri saya. Dan yang jelas saya kalah dengan diri saya sendiri. Itu pointnya.

Pada akhirnya, saya berfikir bahwa Instagram hadir mungkin Allah takdirkan sebagai bentuk ujian kepada manusia. Sanggup gak nih kalo diberi kenikmatan dan fasilitas tetap taat. Tetap rendah hati. Tetap bersikap positif thinking, gak terjerumus dalam riya ataupun pamer. Yaa bisa jadi loh Instagram menjadi salah satu cara Allah menguji hambaNya.

Kemudian saya mencoba install lagi Instagram. Kali ini dengan niat bahwa Instagram akan saya gunakan sebagai ladang dakwah saya. Sebagai jalan bisnis saya. Ya saya mencoba "memanfaatkan" dan mengambil "peluang" dari instagram untuk memulai bisnis kecil-kecilan. Selain itu tiap pagi dan sebelum tidur saya mencoba memanfaatkan instastory saya untuk berbagi tulisan ntah sekedar nasehat, hasil kajian, hingga shirah perjalanan Nabi dan para sahabatnya.

Yah saya mencoba memanfaatkan instagram sebagai media untuk berbisnis dan berbagi ilmu. Saya gamau kalah sama diri saya sendiri. Instagram hadir bukan untuk disalahkan, instagram hadir untuk menguji kita mampu gak kita menjadi manusia yang sebener-benernya manusia meski punya banyak fasilitas yang memanjakan.

Terbukti dari instagram, banyak akun-akun beasiswa mampu menyalurkan informasinya. Dari instagram banyak akun-akun ilmu pengetahuan berhasil menyampaikan informasi menarik. Dari instagram banyak pebisnis yang mampu meningkatkan jaringan hingga pelosok negeri. Dari instagram banyak orang yang berhasil mendapat keuntungan hasil endorse suatu barang dagangan. Dari instagram banyak orang yang belajar bersyukur karena tau diluar sana ternyata masih ada yang gabisa sekolah karena keadaan fisik dan keuangan yang sempit. Dari instagram banyak orang yang mendapatkan kesempatan mendengarkan ceramah bermanfaat. Dan semua itu didapatkan lebih banyak, lebih baik, lebih cepat dibandingkan TV ataupun media sosial lainnya.

Tapi kan di Instagram banyak akun yang isinya konten negatif? Dan bisa jadi kita menjadi riya hanya mengharapkan eksistensi serta pengakuan dan pujian dari orang-orang atas tulisan yang kita bagikan.

Itu lah tantangannya. Itulah kunci dari hadirnya instagram. Mampu gak kita menahan hawa nafsu. Mampu gak kita melawan diri sendiri. Mampu gak kita bersikap seperti manusia yang bener-bener manusia dengan tugas penting sebagai wakil Allah dimuka bumi (khalifah).

Semua kembali kepada diri sendiri. Mau mengambil tantangan itu dan membuktikan kepada Allah kita sanggup, atau menyerah dengan keadaan. Semakin tinggi iman seseorang, maka kadar ujiannya semakin tinggi. Bisa jadi, iman kita dalam bermedia sosial level ujian tertingginya ada di Instagram. Kita gak akan bisa lulus ujian bermedia sosial kalo belum ujian Instagram. Ini hanya hipotesis saya.

Mau lulus ujian bermedia sosial melalui Instagram? Ada 3 hal yang bisa kamu coba.

Pertama luruskan niat. Kamu harus punya niat bahwa menggunakan instagram hanya untuk mendapatkan wawasan positif. Bukan untuk pamer kecantikan meski udah berhijab. Bukan untuk pamer kekayaan, bukan untuk pamer jalan-jalan. Bukan untuk iri dan judge postingan orang lain. Tapi jauh dari itu, untuk berbagi kebahagiaan, untuk sebagai pengingat kebaikan, dan untuk mengajak pada suatu amalan. Kuatkan niat dulu. Supaya dalam perjalanan gak berbelok. Alias istiqomah.

Kedua. Cari temen yang bisa mengingatkan kamu kalo kamu mulai adict terhadap instagram. Yang bisa mengingatkan kamu bahwa apa yang kamu buka dan kamu share itu gak baik. Gak sesuai niatan kamu dan jauh dari kata "bermanfaat". Bukankah Nabi Musa dalam berdakwah ditemani Harun. Bukankah Rasulullah berdakwah ditemani Abu Bakar dan Sahabatnya yang lain. Ya kamu juga harus punya teman dalam hal ini. Penting loh.

Ketiga. Cobalah membagi waktu dan timeline kapan kamu harus membuka instagram dan kapan kamu harus mematikannya. Dan buat target, setiap membuka, akun apa aja yg harus kamu lihat dan wawasan apa aja yang harus kamu dapat. Dari situ kamu akan terjadwal dan gak akan kebablasan dalam bermain instagram. In shaa Allah.

Susah? Ribet? Namanya juga ujian. Kalo semuanya mudah, gimana mau dapet hasil seleksi yang terbaik. Percayalah. Kamu pasti bisa kok.

Terimakasih Instagram dan Maaf ternyata bukan kamu yang harus aku salahkan atas keburukanku bermedia sosial.

Komentar

Postingan Populer