Kita Bukan Hakim!

Kita sering jadi hakim atas kekeliruan orang lain, sampai kita lupa bahwa kitalah tersangka utamanya.

Lagi shalat. Kita lihat ada shaff di depan yang masih longgar, ada yang sujud dan rukuknya tidak sempurna, kemudian mendengar bacaan imamnya belum fasih (belum baik). Lalu di dalam hati mulai menghakimi secara tidak sadar.
"Ah ini shaff nya gak lurus dan rapat. Gimana mau shalatnya sempurna"
"Ah bacaan ustadnya gak bener nih. Gimana mau khusyuk dan diterima shalatnya"

Lagi denger ceramah atau denger khutbah Jum'at. Materinya bosenin. Khatibnya pakai kertas. Ustadnya menyampaikan dengan metode lama. Suaranya kecil dan bikin ngantuk. Lalu di dalam hati mulai menghakimi secara tidak sadar.
"Ah elaah. Materi ini mah udah pernah saya denger"
"Kalo khotibnya pakai kertas mah saya juga bisa baca sendiri. Harusnya gak pake kertas"
"Ceramahnya bikin ngantuk, metode penyampaiannya ngebosenin"

Ada orang yang masuk mesjid belum pake hijab. Celana panjang masih sobek-sobek dan menampakkan aurat. Lalu di dalam hati mulai menghakimi secara tidak sadar.
"Duh ini mesjid tempat suci. Kenapa masuk pakai pakaian yang gak sopan. Gimana ibadahnya mau diterima"
"Harusnya hijabin dulu kepalanya, baru ke mesjid biar gak umbar aurat kemana-kemana"

Ah. Sepertinya bener. Seringkali diri ini menjadi hakim atas kekeliruan orang lain tanpa sadar bahwa ternyata kitalah tersangka dan pelaku utama dalam dosa. Kita asik dalam menilai dan menghakimi orang lain ketimbang mengajak dan menyampaikan yang benar dengan cara halus kepada mereka yang belum paham dan mengerti.

Ah. Sepertinya bener. Seringkali diri ini merasa paling baik pakaiannya. Paling khusyuk shalatnya. Paling dalam ilmu agamanya. Paling bagus penyampaian dakwahnya. Paling bisa menutupi aurat daripada yang lain. Paling fasih bacaannya. Sampai lupa. Ternyata apa yang kita punya dan kita pahami itu semuanya gak bernilai di mata Allah akibat terlalu sering membanggakan diri serasa diri paling taat.

Kini aku sadar. Ternyata selama ini bukan mereka tersangkanya. Tapi kita sendiri. Kita terlihat seperti layaknya seorang hakim yang leluasa memvonis sana sini padahal disisi lain ada Allah yang sedang menutupi aib kita dari orang lain dan seringkali kita terlena akan nikmat itu hingga merasa bahwa diri ini paling sempurna diantara manusia lainnya.

Namun sekarang aku mengerti.
Tugas kita ternyata hanyalah menyampaikan dan mengajak kepada kebaikan. Bukan untuk menghakimi mereka yang belum mengerti dan faham.

@dianmauliksaputra
Pict : pepnews.com

Komentar

  1. The Best Casinos in Vegas - MapyRO
    Best Casino in Vegas · Casino At 당진 출장안마 The Venetian Las Vegas Hotel. · Casino At The Cosmopolitan Las Vegas · The 군포 출장샵 Palazzo Las Vegas · The Cosmopolitan 원주 출장안마 Hotel 울산광역 출장샵 Las Vegas · The 남원 출장샵 Encore

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer