MEMAAFKAN LEBIH MUDAH DARIPADA MELUPAKAN
Sebuah percakapan sederhana beberapa minggu yang lalu antara saya dengan seorang teman lama di angkringan Pak Panut Klebengan ditemani 3 bungkus nasi kucing, gorengan bakar, dan segelas susu jahe di malam jogja yang akhir-akhir ini lagi dingin.
T : Teman saya
S : Saya
----------
T : Kamu apa kabar? Sehat kan? Kok kuliah di jogja dengan makanan serba murah malah semakin kurus.
S : Hehehe Alhamdulillah sehat bang. Yah gimana bang, saya tipenya kalo ada urusan yang belum kelar emang susah buat makan sampai tugasnya selesai baru deh tenang. Abang gimana? Sehat?
T : Alhamdulillah sehat Yan. Halah kamu mah dari dulu gitu. Kebiasaan buruk yang gak pernah hilang.
S : Ehehe ya begitulah bang. Btw, gimana bang, udah selesai kuliahnya?
T : Alhamdulillah udah kelar yan. Lah kamu sendiri gimana? Aman kah?
S : Alhamdulillah aman bang. Doakan aja November lulus yaa. Btw, boleh minta pendapat dan masukan gak bang?
T : Aamiin. Eh boleh lanjutkan aja, kan kamu yang bilang kalo ada orang yang mau curhat ke kita, itu tandanya dia percaya sama kita.
S : Ehehe makasih bang. Jadi gini, kalau kita punya kesalahan terhadap orang lain dan kita udah minta maaf setulus dan sebanyak yang kita mampu, tapi orang itu susah memaafkan gimana bang? Kadang ada juga yang udah memaafkan tapi sikapnya jadi berubah gak seperti dulu. Jadinya canggung buat berinteraksi seperti dulu lagi.
T : Hmm jangan bilang kamu ada masalah sama seorang akhwat yaa
S : Ahaha apaan sih bang. Dah itu nanti aja dibahas. Jawab dulu atuh euy supaya saya ada masukan dan pandangan.
T : Begini, hakikatnya memaafkan dan melupakan itu dua hal yang berbeda tapi sebenernya bisa jadi satu alur dalam sebuah perbaikan dari 2 orang yang saling berselisih paham. Melupakan itu hal tersulit bagi seseorang, apalagi kalau sampai perbuatan itu menyakitinya hingga taraf ke kekecewaan sebuah perasaan yang membekas dalam. Ini yang bahaya dan berat. Kesalahan yang pernah kita lakukan akan menjadi sebuah "nilai" yang akan sangat sulit dilupakan meski sudah dimaafkan.
S : Bukannya Allah itu Maha Pemaaf. Kenapa hambaNya enggak?
T : Jangan samakan manusia dengan Allah. Allah punya banyak pintu maaf bagi hambaNya. Tapi manusia beda. Manusia mudah kecewa dan marah. Jadi wajar aja sulit. Tapi siapa sih yang bilang memaafkan itu sulit? Sebenernya kalau menurutku, kalau kita mau jujur dengan diri sendiri, kita itu sering gak sadar kalo kita itu udah memaafkan banget. Tapi karena kita masih belum bisa melupakan "nilai" dari kesalahan yang udah dilakukan, seakan-akan hati kita itu belum ikhlas dalam memberikan maaf. Itulah kenapa aku lebih setuju kalo memaafkan itu jauh lebih mudah ketimbang melupakan.
---
Ingat kisahnya Rasulullah? Dalam perang Uhud, seorang budak hitam bernama Wahsyi didatangkan kepada Nabi. Ia adalah pembunuh paman Nabi yang sangat dicintai dan dihormati, Hamzah bin Abdul Muththalib. Wahsyi dijanjikan oleh tuannya untuk dimerdekakan bila berhasil membunuh Hamzah dan ia berhasil. Lantas apakah Rasulullah melakukan pembalasan? Tidak. Rasulullah SAW justru memaafkannya. Namun dalam riwayat lain, Rasulullah susah untuk melupakan kejadian itu. Bahkan dijelaskan kalau Rasulullah sampai memalingkan mukanya dan tidak mau melihat wajah Wahsyi hingga beliau wafat. Bukan karena benci, tapi karena setiap melihat wajah Wahsyi, Rasulullah selalu teringat oleh pamannya yang dibunuh dengan cara yang keji dan tragis oleh Wahsyi. Itulah contoh nyata dari makna "nilai" kesalahan yang susah untuk dilupakan meski hati ini sudah memaafkan dengan ikhlas banget.
S : Lantas bagaimana cara menghilangkan nilai itu?
T : Butuh proses. Ketika kamu sudah meminta maaf. Serahkan urusan nilai itu kepada Allah. Kamu hanya perlu berjanji kepada dirimu sendiri bahwa kamu tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi. In shaaAllah ketika Allah udah tau kapan saatnya tiba, nilai itu akan Allah hilangkan dari hati seseorang yang dulu pernah kamu sakiti. Bukankah Allah yang Maha Membolak-balikkan Hati? Jangan ikut campur apa yang menjadi urusan Allah. Cukup kamu lakukan apa yang menjadi tugasmu. Meminta maaf lantas perbaiki kesalahanmu dengan tulus. La tahzan. Innallaha ma'ana.
S : Begitu ya bang. Jadi kita gak perlu menunjukkan dan bilang ke orangnya kalo kita udah berubah?
T : Lah yang namanya perubahan itu yang nilai orang lain. Apakah udah baik atau belum. Bukan kita yang koar-koar menyatakan kita udah berubah. Itu namanya kamu gak ikhlas untuk berubah. Berubah kok demi mendapat pengakuan orang lain. Dah, cukuplah Allah saja yang menjadi hakim atas perubahanmu. Kita gausa menfatwakan diri kita sendiri. Paham yaa? Kalo udah, aku mau nanya. Jadi ini masalah sama akhwat tah? Ahahahaha
S : Yee apaan sih bang. Sok tau. Dah habiskan saja makananmu. Aku yang bayarin karena abang udah mau berbagi dan memberikan nasehat. Aku yakin si mbaknya gak salah pilih calon suami kalo dia milih kamu ahahaha
T : Kan nanya doang sih. Tapi boleh tuh. Makasih yaa. Aku aamiinin juga semua doa baiknya. Yang penting kuncinya tetep, kudu yakin sama Allah ya.
S : Siap bang. Samasama.
----------
Gatau kenapa akhir-akhir ini sering banget teringat dan membuka kembali catatan-catatan lama tentang nasehat-nasehat yang pernah orang lain sampaikan kepada saya. Baik dari orang yang sejak lama saya kenal hingga orang-orang yang baru saya temui detik itu juga. Kadang dari obrolan sederhanalah kita bisa mengambil banyak hikmah karena nyatanya mereka lebih duluan mengalami ketimbang saya. Bersyukurlah ketika bisa dapet masukan dari orang lain. Dan jangan lupa ucapkan terimakasih.
#pagiberbagi
#morningshift
#gerakanstoryberfaedah
dianmauliksaputra.blogspot.com
instagram.com/dianmauliksaputra
T : Teman saya
S : Saya
----------
T : Kamu apa kabar? Sehat kan? Kok kuliah di jogja dengan makanan serba murah malah semakin kurus.
S : Hehehe Alhamdulillah sehat bang. Yah gimana bang, saya tipenya kalo ada urusan yang belum kelar emang susah buat makan sampai tugasnya selesai baru deh tenang. Abang gimana? Sehat?
T : Alhamdulillah sehat Yan. Halah kamu mah dari dulu gitu. Kebiasaan buruk yang gak pernah hilang.
S : Ehehe ya begitulah bang. Btw, gimana bang, udah selesai kuliahnya?
T : Alhamdulillah udah kelar yan. Lah kamu sendiri gimana? Aman kah?
S : Alhamdulillah aman bang. Doakan aja November lulus yaa. Btw, boleh minta pendapat dan masukan gak bang?
T : Aamiin. Eh boleh lanjutkan aja, kan kamu yang bilang kalo ada orang yang mau curhat ke kita, itu tandanya dia percaya sama kita.
S : Ehehe makasih bang. Jadi gini, kalau kita punya kesalahan terhadap orang lain dan kita udah minta maaf setulus dan sebanyak yang kita mampu, tapi orang itu susah memaafkan gimana bang? Kadang ada juga yang udah memaafkan tapi sikapnya jadi berubah gak seperti dulu. Jadinya canggung buat berinteraksi seperti dulu lagi.
T : Hmm jangan bilang kamu ada masalah sama seorang akhwat yaa
S : Ahaha apaan sih bang. Dah itu nanti aja dibahas. Jawab dulu atuh euy supaya saya ada masukan dan pandangan.
T : Begini, hakikatnya memaafkan dan melupakan itu dua hal yang berbeda tapi sebenernya bisa jadi satu alur dalam sebuah perbaikan dari 2 orang yang saling berselisih paham. Melupakan itu hal tersulit bagi seseorang, apalagi kalau sampai perbuatan itu menyakitinya hingga taraf ke kekecewaan sebuah perasaan yang membekas dalam. Ini yang bahaya dan berat. Kesalahan yang pernah kita lakukan akan menjadi sebuah "nilai" yang akan sangat sulit dilupakan meski sudah dimaafkan.
S : Bukannya Allah itu Maha Pemaaf. Kenapa hambaNya enggak?
T : Jangan samakan manusia dengan Allah. Allah punya banyak pintu maaf bagi hambaNya. Tapi manusia beda. Manusia mudah kecewa dan marah. Jadi wajar aja sulit. Tapi siapa sih yang bilang memaafkan itu sulit? Sebenernya kalau menurutku, kalau kita mau jujur dengan diri sendiri, kita itu sering gak sadar kalo kita itu udah memaafkan banget. Tapi karena kita masih belum bisa melupakan "nilai" dari kesalahan yang udah dilakukan, seakan-akan hati kita itu belum ikhlas dalam memberikan maaf. Itulah kenapa aku lebih setuju kalo memaafkan itu jauh lebih mudah ketimbang melupakan.
---
Ingat kisahnya Rasulullah? Dalam perang Uhud, seorang budak hitam bernama Wahsyi didatangkan kepada Nabi. Ia adalah pembunuh paman Nabi yang sangat dicintai dan dihormati, Hamzah bin Abdul Muththalib. Wahsyi dijanjikan oleh tuannya untuk dimerdekakan bila berhasil membunuh Hamzah dan ia berhasil. Lantas apakah Rasulullah melakukan pembalasan? Tidak. Rasulullah SAW justru memaafkannya. Namun dalam riwayat lain, Rasulullah susah untuk melupakan kejadian itu. Bahkan dijelaskan kalau Rasulullah sampai memalingkan mukanya dan tidak mau melihat wajah Wahsyi hingga beliau wafat. Bukan karena benci, tapi karena setiap melihat wajah Wahsyi, Rasulullah selalu teringat oleh pamannya yang dibunuh dengan cara yang keji dan tragis oleh Wahsyi. Itulah contoh nyata dari makna "nilai" kesalahan yang susah untuk dilupakan meski hati ini sudah memaafkan dengan ikhlas banget.
S : Lantas bagaimana cara menghilangkan nilai itu?
T : Butuh proses. Ketika kamu sudah meminta maaf. Serahkan urusan nilai itu kepada Allah. Kamu hanya perlu berjanji kepada dirimu sendiri bahwa kamu tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi. In shaaAllah ketika Allah udah tau kapan saatnya tiba, nilai itu akan Allah hilangkan dari hati seseorang yang dulu pernah kamu sakiti. Bukankah Allah yang Maha Membolak-balikkan Hati? Jangan ikut campur apa yang menjadi urusan Allah. Cukup kamu lakukan apa yang menjadi tugasmu. Meminta maaf lantas perbaiki kesalahanmu dengan tulus. La tahzan. Innallaha ma'ana.
S : Begitu ya bang. Jadi kita gak perlu menunjukkan dan bilang ke orangnya kalo kita udah berubah?
T : Lah yang namanya perubahan itu yang nilai orang lain. Apakah udah baik atau belum. Bukan kita yang koar-koar menyatakan kita udah berubah. Itu namanya kamu gak ikhlas untuk berubah. Berubah kok demi mendapat pengakuan orang lain. Dah, cukuplah Allah saja yang menjadi hakim atas perubahanmu. Kita gausa menfatwakan diri kita sendiri. Paham yaa? Kalo udah, aku mau nanya. Jadi ini masalah sama akhwat tah? Ahahahaha
S : Yee apaan sih bang. Sok tau. Dah habiskan saja makananmu. Aku yang bayarin karena abang udah mau berbagi dan memberikan nasehat. Aku yakin si mbaknya gak salah pilih calon suami kalo dia milih kamu ahahaha
T : Kan nanya doang sih. Tapi boleh tuh. Makasih yaa. Aku aamiinin juga semua doa baiknya. Yang penting kuncinya tetep, kudu yakin sama Allah ya.
S : Siap bang. Samasama.
----------
Gatau kenapa akhir-akhir ini sering banget teringat dan membuka kembali catatan-catatan lama tentang nasehat-nasehat yang pernah orang lain sampaikan kepada saya. Baik dari orang yang sejak lama saya kenal hingga orang-orang yang baru saya temui detik itu juga. Kadang dari obrolan sederhanalah kita bisa mengambil banyak hikmah karena nyatanya mereka lebih duluan mengalami ketimbang saya. Bersyukurlah ketika bisa dapet masukan dari orang lain. Dan jangan lupa ucapkan terimakasih.
#pagiberbagi
#morningshift
#gerakanstoryberfaedah
dianmauliksaputra.blogspot.com
instagram.com/dianmauliksaputra


Komentar
Posting Komentar